PENGALAMAN INDAH
SAAT INOVASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Belajar merupakan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk dapat mengetahui sesuatu yang belum pernah mereka ketahui sehingga orang tersebut akan benar-benar mengerti atau mengetahuinya. Dalam proses belajar tentunya bukanlah hal yang mudah karena membutuhkan ketekunan dan keseriusan dalam mengerjakannya, begitu juga dengan diri saya yang saat ini berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Provinsi Gorontalo, dalam melaksanakan pekerjaan saya selama ini baru lulus. kewajiban saja, itulah yang selalu ada di pikiran saya sepanjang waktu dan berusaha keras agar saya bisa melakukan pekerjaan saya secara bertanggung jawab
dimana semua yang saya lakukan sesuai dengan kaidah kurikulum, dalam proses mengajar saya mengajar sesuai dengan keterampilan yang saya miliki saat ini dengan keterampilan IT yang sesuai . Namun seiring berjalannya waktu saya mengalami kejenuhan dalam melakukan rutinitas yang begitu saja yang bisa dikatakan masih berupa pendidikan konvensional.
Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dimana terdapat objek dan mata pelajaran sehingga pada kesimpulannya pembelajaran dapat bermakna sebagai suatu proses pembelajaran pembelajaran adalah suatu sistem yang terdiri dari unsur manusia, bahan, fasilitas, peralatan, dan prosedur yang mempengaruhi pencapaian tujuan. belajar. Manusia yang terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan personel lainnya, seperti personel laboratorium. Bahan termasuk buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, kaset audio dan video, dan bahan lainnya (Oemar Hamalik, 1999, dalam Hera Lestari Mikarsa 2007: 7.3)
Rumusan makna pembelajaran mengandung sinyal bahwa proses pembelajaran merupakan kegiatan penyampaian ilmu pengetahuan dari seorang pendidik kepada peserta didiknya, tidak terbatas dilaksanakan di dalam ruangan saja, tetapi dapat dilaksanakan dimana saja dengan membaca buku, informasi melalui film, koran, televisi, internet. untuk organisasi dan interaksi sebagai komponen yang saling berhubungan, untuk mendidik peserta didik.
Pendidikan konvensional masih lebih menitikberatkan pada cara menghafal dan bagaimana mendapatkan informasi atau pengetahuan hanya dari guru atau melalui satu arah, guru kolom selalu menjelaskan dan meminta siswa untuk dapat memahami tanpa memperhatikan pola pikir peserta didik, tanpa memikirkan kemampuan peserta didik dalam mengolah informasi yang diterima, guru tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengolah materi yang disajikan
Pendidikan Konvensional masih sangat menjunjung tinggi peran utama Guru dalam proses pembelajaran sebagai satu-satunya sumber pengetahuan bagi peserta didik, selain itu materi masih disajikan dalam bentuk penyampaian sepihak masih bersumber dari sumber standar saja dimana siswa hanya berperan sebagai penerima dan bukan sebagai pengolah, dan hal inilah yang menyebabkan peserta didik tidak mampu mengembangkan keterampilan yang dimilikinya karena dibatasi oleh hak seorang guru.
Guru masih memiliki kewenangan penuh atas proses pembelajaran dan mengedepankan ilmu yang harus dikuasai peserta didik untuk kemudian hal ini akan menjadi bahan ujian bagi peserta didik, dapat disimpulkan pembelajaran masih pasif, peserta didik belum diberi ruang untuk berinovasi dan bekerja keras. dalam proses pembelajaran di kelas.
Proses pengajarannya masih menggunakan Paradigma Lama
Pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher-centered learning)
Dalam mengimplementasikan Inovasi Pembelajaran tentunya
bagi saya pribadi masih banyak kendala, seperti yang sudah
saya jelaskan diatas bahwa kemampuan IT saya hanya sebatas menyalakan dan mematikan Laptop saja, saya masih sangat malas dalam mengoperasikan berbagai aplikasi yang sudah hampir sebagian guru di Indonesia sudah. tetapi tidak sangat akrab dengan saya, dengan
alasan bahwa kesediaan saya untuk berinovasi sekitar waktu yang lama berkurang tapi selalu dalam bayangan gelap oleh rasa takut salah, selalu dalam
pikiran saya jika saya inivasi bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran Apakah tidak ada konsekuensi negatif yang bisa saya dapatkan atau saya hadapi ???? Perasaan seperti ini selalu membayangi saya, sehingga pada suatu saat saya ditawari oleh seorang teman untuk mengikuti berbagai kegiatan pelatihan baik lokal maupun di tingkat Nasional, awalnya saya tidak berani melakukannya tetapi karena perubahan dan perubahan Kurikulum yang berubah yang bertujuan untuk dapat memberikan ilmu dan pemahaman bahwa setiap guru harus selalu dapat megupate pemahamannya terutama dalam hal pemahaman penggunaan Aplikasi demi kelancaran proses pembelajaran dan guru dituntut untuk selalu berinovasi.
Berdasarkan uraian di atas, sekarang saatnya bagi saya untuk memikirkan bagaimana seharusnya proses pembelajaran berlangsung dalam dunia pendidikan saat ini, karena pendidikan kini memasuki
ERA DIGITAL. Menghadapi era digital saat ini sudah saatnya merubah paradigma proses pembelajaran kita menjadi proses yang penuh dengan cara sehingga apa yang kita lakukan akan efektif bagi peserta didik dan mudah dipahami bahkan diterapkan, ini bukti kerjasama antara guru dan peserta didik. dalam menunjang proses pembelajaran agar apa tujuan pembelajaran atau tujuan pendidikan dapat tercapai, namun kita harus mampu beradaptasi.
dengan perkembangan usia peserta didik.
Dalam Menerapkan Proses Pembelajaran seperti yang diharapkan di Era
Digitall saat ini baik guru maupun peserta didik dapat belajar dengan menggunakan berbagai sumber, namun hal tersebut tergantung dari guru dan peserta didik itu sendiri, selain itu guru harus dapat menemukan berbagai model dan pendekatan dalam proses pembelajaran tersebut. proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
Dengan tuntutan dan kebutuhan
yang diharapkan agar semua guru mampu melakukan inovasi guna mencapai tujuan Pendidikan, oleh karena itu saya
merasa terpanggil untuk dapat melakukan inovasi pembelajaran dalam
pelaksanaan tugas keseharian saya. Namun ini tidak semudah membalikkan telapak tangan yang begitu mudah dilakukan sesuai keinginan.
Dalam menerapkan proses pembelajaran yang modern dalam hal ini dituntut guru selalu berinovasi bagi saya pribadi masih sangat banyak kendala, seperti yang sudah
saya jelaskan di atas bahwa kemampuan IT saya hanya sebatas menyalakan dan mematikan Laptop saja, saya masih sangat malas dalam mengoperasikan berbagai aplikasi itu. memang hampir semua guru di Indonesia sudah sangat familiar, namun mereka tidak dengan saya, oleh karena itu keinginan saya untuk berinovasi sudah ada sejak lama, namun saya selalu dibayang-bayangi oleh rasa takut salah yang selalu ada di benak saya jika saya melakukan ini. Apakah tidak ada konsekuensi negatif yang bisa saya dapatkan atau saya temukan ???? Perasaan seperti ini selalu membayangi saya, sehingga pada suatu saat saya ditawari oleh seorang teman untuk mengikuti berbagai kegiatan pelatihan baik lokal maupun di tingkat Nasional, awalnya saya tidak berani melakukannya tetapi karena perubahan dan perubahan Kurikulum yang berubah yang bertujuan untuk dapat memberikan ilmu dan pemahaman bahwa setiap guru harus selalu dapat megupate pemahamannya terutama dalam hal pemahaman tentang penggunaan Aplikasi untuk kelancaran proses pembelajaran.
Dalam memulai suatu proses tentunya membutuhkan komitmen yang kuat, agar apa yang menjadi tujuan kita tercapai, dan
komitmen inilah yang menjadi landasan bagi saya untuk melakukan terobosan atau inovasi dalam proses pembelajaran. Namun dalam perjalanan menuju prosesnya ada beberapa hal yang menurut saya
sangat menarik untuk diangkat ke permukaan untuk menjadi masukan bagi teman-teman untuk selalu berinovasi walaupun hanya sedikit jika kita tidak memulainya dari sekarang. Menurut saya, ada beberapa hal yang menarik dalam penerapan inovasi pembelajaran :
1.
Niat dan keinginan yang kuat
Niat adalah wujud keinginan kita untuk dapat mencapai sesuatu yang ingin kita capai, serta apa yang dilakukan seperti:
·
Mengubah cara mengajar dari konvensional ke modern yang
cara
·
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat menemukan kebenaran teori tersebut
·
Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengasah kemampuan motoriknya
1.
Menerapkan ide
Ide dari metode pembelajaran kreatif mempunyai 2 arti yaitu: Pembelajaran yaitu pembelajaran yang kreatif dan kreatif, perbedaan antara kedua kata tersebut ada pada objek yang dilakukan oleh guru, Pembelajaran Kreatif mengutamakan peran guru dalam membuat proses pembelajaran di kelas menarik bagi peserta. belajar , lebih efektif dan menggunakan pendekatan imajinatif, sedangkan pembelajaran Kreatif menekankan pada kemampuan
guru dalam mengidentifikasi kreativitas peserta didiknya, memperkuat kreativitas mereka dan memberi mereka kesempatan untuk mewujudkannya. Pendekatan proses pembelajaran kreatif akan sangat religius jika diterapkan dalam dunia pendidikan kita, mengingat demograi dan kondisi daerah masing-masing. Dan juga harus menyesuaikan dengan usia peserta didik, tentunya kreativitas anak SD akan berbeda dengan kreativitas anak SMP atau SMA bahkan anak SMK, disini peran seorang guru di setiap jenjang pendidikan dapat menyesuaikan metode, model pembelajaran kreatif atau pembelajaran kreatif bagi peserta didik masing-masing.
Nah untuk implementasi kedua hal diatas di sekolah saya, dilakukan dengan berbagai metode langkah awal dilakukan untuk mengetahui karakteristik masing-masing peserta didik tentang kemauan, bakat dan minat belajar sehingga kita dapat dengan mudah menerapkan konsep tersebut. Maka dari itu sangatlah mudah bagi kita untuk Berinovasi dalam proses pembelajaran walaupun dasar implementasi dari Inovasi yang telah saya lakukan masih belum maksimal namun suatu kebanggaan saya telah berusaha dapat berinovasi untuk mendukung program pemerintah dan menyukseskan tujuan pendidikan sekaligus didorong di Era Digital.
Semoga penyampaian materi ini akan bisa bermanfaat.. aamiin
Gorontalo, November 2020
|
|
 |