1. Karya Yuliana Podungge , S.Pd
Laporan Best Practice
Pengalaman
Belajar saat mengikuti kegiatan
sebagi peserta Training Course
on Science Laboratory Management yang
diselenggarakan oleh SEAMEO Regional Centre for QITEP in Science pada
tanggal 5-14 Mei 2015, di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA) Jl. Diponegoro No.
12 Bandung.
(Tulisan Best Practice dalam Bentuk
Narasi Deskriptif)
Selasa, 24/11/2015
Ketika Berbagai Macam Rasa Menyatu
Dalam Satu Keinginan Untuk Maju
Siswa merupakan sekolompok
masyarakat terpelajar dimana mereka memiliki Hati dan fikiran, Hati dan
fikiran para siswa laksana api yang
setiap hari harus dinyalakan agar semangat dan motivasi belajar mereka tak
pernah pudar ataupun padam di ruang kelas. Sebagai seorang guru, saya harus
punya cara, agar di setiap kelas yang saya kunjungi, api itu dapat kunyalakan
sehingga cahaya hari itu bisa menjadi cahaya penerang untuk hari esok mereka.
Setiap pagi, saya berjumpa dengan
murid-muridku di sekolah, mereka menyapaku dengan senyum ramah dan selalu
menyalamiku. Senyum dan keramahan mereka ibarat segelas teh manis ternikmat
yang selalu kucicipi setiap pagi. Saya senang melihat keramahan mereka dan
sudah pasti sayapun sangat menyayangi mereka. Tetapi ada perasaan berdosa dalam
diri saya terhadap mereka, betapa tidak? selama ini prestasi mereka tidak
begitu baik, tidak menggembirakan dan tidak membanggakan bagi saya dan pasti
juga mereka. Secara rata-rata, nilai mereka setiap ulangan harian selalu banyak
yang kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Saya malu pada diri
sendiri,”Ya Allah , apa yang harus kuperbuat? ” keluhku dalam hati. Padahal
menurutku, saya telah berusaha mengajar semaksimal mungkin sesuai dengan tugas
dan kewajiban sebagai seorang guru. Saya datang dan mengajar setiap hari, untuk
mengasah kemampuan mereka saya memberinya tugas, memberi pekerjaan rumah (PR),
memberi latihan soal, memberikan remedial untuk yang nilainya kurang dari KKM
dan itu sudah saya lakukan semuanya. Di kelas, saya bagaikan pengkhotbah ulung, saya mengajar mereka
dengan ceramah yang materinya sudah saya hapal betul, karena dari tahun ke
tahun hanya itu dan itu yang saya sajikan, seperti siaran ulang di TV, yang
berbeda hanya pemirsanya saja. Saya berusaha menggunakan metode yang berbeda
dengan harapan akan terjadi perubahan nilai dan kemampuan mereka, terjadi
perubahan skill mereka tetapi hasilnya masih sama. Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), saya telah menyiapkannya di awal tahun pelajaran. Tapi
mengapa nilai ulangan harian dan
prestasi anak-anakku hampir selalu tidak ada perubahan kearah yang lebih baik?
padahal setiap saya selesai menyampaikan materi pembelajaran di kelas, saya
selalu bertanya pada mereka, “Apa kalian susah mengerti?” merekapun
menjawabnya, “Iya,“ lalu saya bertanya lagi, “Ada yang mau bertanya?” merekapun
diam, tak ada yang bertanya, bukankah itu bukti bahwa mereka sudah paham dengan
apa yang saya ajarkan? lagi-lagi saya merasa aneh, ketika ulangan harian,
mendapati nilai mereka banyak yang kurang dari KKM. “Hmm..., sepertinya mereka
jarang belajar di rumahnya, makanya nilainya selalu kecil,” itu kesimpulanku.
Pernah kepada beberapa sesama rekan guru saya bertanya tentang kondisi siswa di
sekolah kami, ternyata hampir semua guru sama mengeluhkan kondisi riil yang
relatif sama. “Ya sudahlah, kalau begini bukan salah kita, karena tugas kita
mengajar di sekolah sudah kita lakukan, soal belajar di rumah, itu ‘kan
tanggung jawab orang tua dan mereka masing-masing,” kata salah seorang rekan
guruku. Saya hanya diam tak berkomentar, tetapi tetap saja ada yang mengganjal
di hati saya, dan ini sudah lama saya rasakan.
Dalam
Perasaan yang selalu bergejolak itu saya berusaha untuk bisa menumukan jawaban
ataupun solusi, lagi-lagi hanyalah jalan buntu yang saya temui, tetapi dalam
kekalutan dan kebuntuan fikiran saya punya satu tekad agar suatu saat saya bisa
memperoleh jalan yang semestinya bisa saya lalui bersama dengan siswa sehingga
tujuan pembelajaran yang sudah diprogramkan akan tercapai… amin, masih dalam
kekalutan dan kebingungan saya mendapat telpon dan sms dari teman . Setelah
saya terima telpon dan baca SMS teman,
saya menemukan satu titik harapan semoga ini merupakan awal dari
keinginan saya.
Telepon dan
SMS dari teman
Suatu hari saya menerima telepon dan
sms dari teman yang mengajar di SMPN 2
Telaga Biru , Wati baderan namanya. Saya biasa menyapanya dengan sebutan “Tiu” yang singkatan dari wati dan merupakan panggilan sayang
terhadapnya, Wati adalah salah seorang teman akrab saya teman SMA saat duduk
dibangku SMA Negeri 3 Gorontalo, beliau juga adalah teman Kuliah
ketika kuliah di STKIP Gorontalo
yang sekarang sudah menjadi UNG sekitar
tahun 1994-1999, Wati Baderan meminta
saya agar membuka situs website dari Seameo Regional Centre Qitep
Science , dimana pada situs tersebut ada kegiatan pelatihan tentang Training
Course on Science Laboratory Management yang diselenggarakan oleh P4TKIPA Bandung Jawa
Barat yang merupakan kerjasama Negara-Negara se ASEAN.
Dengan perasaan yang penuh kebingungan saya masuk
ke situs yang sudah disebutkan alamatnya, tanpa piker panjang saya sudah masuk
diawali dengan menuliskan email sama paswordnya…. Tetapi saat saya buka
perintah ataupun instruksinya menggunakan bahasa inggris Oh My Good (OMG) begitu keluh saya dalam hati
tetapi sifatnya manusia yang punya rasa ingin tahu apa dan bagaimana
kelanjutanya saya terus mengikutinya walaupun saya menggunakan bantuan mbah geogle terjemahan (geogle
translate) Dan sampai akhirnya saya sudah mengisi format biodata
semuanya diisi tanpa perasaan ragu, saya terus mngikuti perintah yang tertera
dalam situs tersebut, saya diminta melengkapi semua persayaratan,dimana
persayaratan yang saya buat semunya dalam bahasa inggris , sekali lagi saya terus menggunakan jasa mbah
geogle… walaupun pada dasarnya bahasa inggris saya seperti kata teman saya
Ismiati Gaga, S.Pd bahwa bahasa saya tidak sesuai structure ataupun sintaksnya
, tetapi saya tanamkan dalam diri saya bahwa bahasa inggris bukanlah bahasa nenek
moyang kita so… jangan malu mengungkapkan dan menggunaknya yang penting bahasa tersebut bisa dipahami
oleh lawan bicara, kita menggunakan body language yang bisa dipahami ini saya
kutip dari Bpk” Hi. Endang Puluhulawa, M.Si yang pernah menjadi fasilitator
pada IHT semasa SMPN1 Tilamuta masih berstatus RSBI itu yang menjadi motivasi saya sehingga degan modal itu saya bisa lolos
seleksi untuk peserta untuk mengikuti
kegiatan tersebut, yang diakhiri dengan tes Interview masih tetap menggunakan
bahasa internasional, tetapi yang kali ini saya tidak bisa menggunakan bantuan
mbah geogle sebab interviewnya langgsung via phone .
Setelah semua persiapan selesai dan
rampung, saya berangkat menuju ke lokasi
pelatihan Di Jawa Barat Bandung tepatnya di P4TKIPA masih tetap diselimuti oleh
perasaan yang begitu campur aduk tetapi dengan satu tekad saya harus bisa
walaupun hanya dengan modal pas-pasan… sampailah ketempatnya saya cek in di
lokasi pukul 14.00 waktu Bandung, setelah menyerahkan semua persayaratan saya disarankan
oleh panitia untuk menuju ke ruangan Opening yang akan dibuka pukul 15.00 waktu
setempat.
Saat saya masuk saya langsung disapa
oleh salah seorang partisipan dari Cambodia namanya Monirath… sapaanya… Hy….
Nice to meet You…. Kalo sapan seperti ini kecill fikir saya … terus disambung
lagi where do you come from… masih bisa diatasi… and percakapan berlangsung…
saya melihat sekeliling ternyata terdapat 5 orang dari Negara Asean yang dimana
semua peserta menggunakan bahasa Internasional…
nafas saya sesaat terhenti… OMG…. Saya mendesah dalam hati
..hmmmmmmm…hmmmm.benarkah ini yang akan terjadi 10 hari kedepan selama saya
berada di lokasi kegiatan???? Saya
menarik nafas dalam-dalam kemudian saya berkata dalam hati “ saya harus bisa,
saya tidak bisa memalukan daerah saya
sebab dari Gorontalo hanya saya sendiri sementara teman-teman lain setiap
propinsi ada 2 atau 3 orang… saya berfikir kenapa mereka bisa saya tidak?....
tetapi saya bersyukur walaupun inggris saya KW
mungkin tapi alhamdullh tidak banyak hambatan yang saya alami, saya
mengalami hal yang berat kira-kira hanya 1-2 hari saja setelah itu saya sudah
enjoy… saya sudah bisa mengatasinya, saya sudah mampu berkomunikasi dengan
mereka walaupun tidak sebaik teman-teman dari propinsi lain .
Tak terasa Jadwal pelatihan sudah
berlangsung 10 hari, sudah banyak yang
saya peroleh, Manfaat antara lain :
1.
Saya mendapat teman baru yang berasal dari Negara
Asean
2.
Saya bisa mengasah kemampuan berbahasa saya dengan
baik walaupun belum sebaik teman yang lain
3.
Saya menambah wawasan saya tentang managemen Lab yang
baik
4.
Saya bisa masuk ke ITB dan belajar disana
5.
Saya bisa
berbagi pengalaman dengan teman dari berbagai propinsi bahkan dari beberapa
Negara Asean tentang masalah yang saya hadapi sehingga saya mendapat masukan
bagaimana seharusnya mengatasi masalah yang saya alami
Saatnya saya Back to activities
place dan saya berusaha menerapkan apa yang pernah saya peroleh selama kegiatan ataupun hasil sharing dari
teman-teman tentang bagaimana selayaknya kita memperlakukan siswa sehingga
pembelajaran yang kita laksanakan akan menyenangkan dan kita akan menjadi guru
yang dirindukan saya mengharapkan
bahwa anak didik saya pun akan bisa
berbuat seperti layaknya seorang masyarakat terdidik (siswa) yang berada di
kota-kota besar ataupun siswa yang ada di Negara Asean. Walaupun kultur dan
budaya kita berbeda dengan kultur dan budaya mereka tetapi minimal kita bisa
memperlakukan mereka seperti layaknya seorang siswa sehingga dengan demikian
Tujuan Pembelajaran akan bisa tercapai.
Berdasarkan pengalaman beajar yang
saya peroleh selama 10 hari di P4TKIPA terdapat beberapa kesimpulan yang ingin
saya bagi ke teman-teman semua
A)
Tanamkan rasa percaya diri (confidence)
B)
Selalu berusaha dan membuka diri terhadap kritikan dan
masukan teman (menerima saran dan pendapat teman)
C)
Terus Belajar-dan belajar ( belajar sepanjang hayat)
D)
Berusahalah untuk bisa menguasai dunia dengan cara
menguasai bahasa internasional (Bahasa Inggris)
E)
Jadikanlah berbagai
macam Rasa itu akan menyatu dalam satu keinginan untuk bisa maju
Demikian
laporan best practice saya tentang pengalaman belajar selama 10 hari mejadi
peserta Training Course on Science
Laboratory Management yang diselenggarakan oleh SEAMEO Regional
Centre for QITEP in Science dan P4TKIPA Bandung.